Industri Farmasi Jepang: Wawasan Menjadi Globalisasi

Jepang adalah pasar terbesar kedua untuk obat-obatan, dengan AS adalah yang terbesar. Ini mewakili hampir 10% dari pasar farmasi dunia. Salah satu kekuatan pendorong utama di balik ukuran pasar yang besar ini adalah usia penduduk Jepang yaitu 26% dari populasi Jepang adalah 65 tahun atau lebih. Dengan harapan hidup yang lebih tinggi, Jepang menempati urutan teratas dunia baik dalam populasi pria dan wanita. Konsekuensinya, kebutuhan medis sedang meningkat; dengan demikian, meningkatkan jumlah perusahaan farmasi, importir, dan eksportir di Jepang.

Pemerintah Jepang telah mengambil beberapa langkah untuk memenuhi kebutuhan medis. Tujuan pemerintah adalah untuk mengurangi pengeluaran keseluruhan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang memadai kepada penduduk Jepang. Baru-baru ini, dua terobosan besar telah diatur; revisi harga obat biennial dan promosi obat generik, bukan obat bermerek. Obat-obatan bermerek (paten) harganya mahal karena menanggung biaya penelitian, pengembangan, dan komersialisasi. Industri medis Jepang, terutama mereka yang fokus pada obat-obatan bermerek, sekarang perlu meningkatkan kehadiran globalnya untuk menghilangkan persaingan ini dengan industri obat generik. Kembali pada tahun 1990-an, keputusan pemerintah untuk mengizinkan impor obat-obatan telah membatasi bisnis yang tersedia untuk perusahaan farmasi domestik saja.

Dalam konteks ini, telah menjadi penting bagi industri medis Jepang untuk berinvestasi dalam penelitian klinis yang memfasilitasi globalisasi. Telah diamati bahwa perusahaan-perusahaan Jepang telah menghabiskan lebih sedikit anggaran untuk penelitian dan pengembangan dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa. Perusahaan-perusahaan farmasi Jepang telah lama menggunakan uji klinis in-house untuk pengujian domestik. Namun, meningkatnya permintaan global untuk pengembangan obat baru mengharuskan R & D termasuk uji klinis. Ini memberikan ruang bagi organisasi riset kontrak (CRO) untuk maju. Industri CRO lokal dan internasional, dengan demikian, merupakan salah satu pasar fokus langsung untuk obat-obatan Jepang.

Karena pemerintah Jepang sangat menyadari semua perubahan yang sedang berlangsung, langkah-langkah diambil untuk mengurangi panjangnya proses peninjauan untuk pengenalan obat baru di Jepang. Pedoman baru-baru ini telah memungkinkan penggunaan data percobaan non-Jepang untuk memfasilitasi pengenalan cepat obat-obatan baru di pasar. Demikian juga, itu mengharuskan ekspor obat Jepang ke organisasi penelitian klinis di seluruh dunia untuk digunakan dalam uji klinis. Akibatnya, sebagian besar perusahaan farmasi Jepang telah mulai mengekspor obat-obatan untuk pemeriksaan CRO klinis.

Dengan banyaknya perusahaan farmasi di pasar, sekarang tidak dapat dihindari untuk menggunakan teknologi dalam pengembangan, pengujian dan promosi obat-obatan Jepang. Departemen kesehatan juga membantu perusahaan-perusahaan yang berteknologi maju dan merencanakan ekspansi internasional. Dalam konteks ini, ketersediaan online obat-obatan Jepang telah menjadi vital untuk pemasaran yang efektif.

Sebagai kesimpulan, adalah untuk menegaskan kembali bahwa industri farmasi Jepang perlu memperluas bisnis mereka di seluruh dunia untuk kesinambungan jangka panjang. Organisasi penelitian kontrak dapat memberi mereka dukungan besar untuk membandingkan penemuan mereka dengan mengatur uji klinis terstruktur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *